Temuan Dua Asteroid Bermateri Organik di Antara Mars dan Jupiter


Jika Anda pergi ke Yunani dan menanyai warga setempat tentang Kota Pavlopetri, mereka mungkin akan takjub dengan Anda. Tidak semua orang mengetahui tentang Kota Bawah Laut tertua di dunia. Temuan arkeologi bawah laut ini berupa sisa-sisa arsitektur kota yang telah tenggelam, dan hanya terendam sekitar tiga meter dari permukaan laut. Kota ini merupakan kota bawah laut tertua di laut Mediterania, sekaligus tertua di dunia.

Pavlopetri berada di Pantai Pounta Laconia Semenanjung Peloponnese. Berjarak empat jam berkendara dari Athena, atau 2,5 jam dari Bandara Internasional Kalamata. Melansir dari Greek City Times, Pavlopetri secara harfiah berarti Batu Paulus. Berkaitan dengan St Paulus, yang merupakan seorang martir sekaligus penyebar ajaran Kristen. Pemukiman ini berisi material Neolitik dan Zaman Perunggu, dan kota ini diyakini telah berkembang pada periode antara 3000 dan 1000 tahun SM.
“Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah kota bawah laut tertua di dunia,” kata  Jon Henderson, profesor arkeologi bawah laut di University of Nottingham. “Kota ini berasal dari 2800 hingga 1200 SM, jauh sebelum masa kejayaan Yunani klasik. Ada situs bawah laut lainnya yang lebih tua di dunia, tetapi tidak ada unik seperti ini.”

Melansir dari Archeology World, pada 1904, Fokion Negri, seorang ahli geologi  melaporkan sebuah kota kuno di dasar laut. Kota tersebut terletak di antara pulau Elafonisos dan pantai Punta di selatan Laconia. Kemudian pada 1967, Nicholas Flemming, ahli kelautan dari University of Southampton mengunjungi kota kuno tersebut yang berada di kedalaman 3-4 meter.

Pada 1968, Nicholas Flemming kembali ke Pavlopetri dengan sekelompok arkeolog muda dari University of Cambridge, lalu bekerja sama dengan profesor Angelos Delivorrias. Mereka mengukur usia dan memetakan kota yang tenggelam tersebut.

Hasilnya, mereka menemukan perumahan prasejarah yang langka dengan banyak bangunan, jalan, dan bahkan alun-alun. Berdasarkan temuan tersebut, tim dari University of Cambridge mengumumkan bahwa Pavlopetri pertama kali dihuni pada 2800 SM, sedangkan bangunan dan jalan berasal dari periode Mycenaean (1680-1180 SM). Pada 2001, UNESCO mencatat bahwa reruntuhan bawah laut Pavlopetri adalah contoh warisan budaya bawah laut yang harus dilestarikan.

 
Pada 2007 Jon Henderson dan Chryssanthi Frenchman dari University of Nottingham mengunjungi Pavlopetri. Mereka bekerja sama dengan Direktur Ephorate of Underwater Antiquities Ilias Spondilis, melakukan program penelitian untuk penyelidikan arkeologi lebih lanjut Kota Pavlopetri. Proyek selama lima tahun ini (2009-2013) bertujuan untuk menjelaskan mengenai penanggalan dan karakter desa yang tenggelam di Elaphonisos, juga peran kota dalam mengontrol Teluk Laconian.

Lalu pada 2011, Kota Pavlopetri mulai terkenal ketika BBC mengunjungi kota tersebut dan membuat sebuah film dokumenter tentang Pavlopetri. Film tersebut menampilkan pemandangan spektakuler dari peradaban kuno berusia ribuan tahun. BBC menggunakan teknik pemindaian laser spesialis secara akurat, dan menciptakan model artefak tiga dimensi.
Ahli geologi kelautan belum mengetahui penyebab pemukiman tersebut tenggelam. Teori yang sangat mungkin yaitu karena perubahan permukaan laut, penurunan tanah akibat gempa bumi, atau tsunami. “Kemungkinan disebabkan oleh dua alasan pertama,” kata Dimitris Sakellariou dari Yunani Institute of Oceanography.

Dengan bantuan teknologi digital, para arkeolog percaya bahwa dahulu kota ini merupakan pusat industri tekstil yang berkembang pesat. Arkeolog menemukan banyak alat tenun dan alat lainnya di lokasi tersebut. Tidak hanya bagi masyarakat Yunani, Kota Pavlopetri juga merupakan warisan budaya dunia yang harus dilestarikan.


Kini, para ilmuwan yakin bahwa kehadiran keduanya di sabuk asteroid adalah bukti dari kekacauan yang terjadi selama hari-hari awal pembentukan tata surya. Kemungkinan besar juga mereka terlempar ke orbit yang berbeda oleh gerakan dan gaya gravitasi planet-planet yang lebih besar selama waktu itu.

"Untuk mendapatkan bahan organik ini, pada awalnya Anda harus memiliki banyak es di permukaan," kata peneliti Michael Marsset kepada New York Times. "Jadi keduanya pasti terbentuk di lingkungan yang sangat dingin," sambungnya. Kajian penelitian Marsset tentang hal ini terbit di jurnal Astrophysical Journal Letters pada 26 Juli 2021, yang berjudul Discovery of Two TNO-like Bodies in the Asteroid Belt.

"Kemudian penyinaran matahari dari es menciptakan organik kompleks itu," tegasnya lebih lanjut.
Menurut Hal Levison, seorang ilmuwan planet di Southwest Research Institute di Colorado yang merupakan kepala misi NASA yang mempelajari asteroid Jupiter, mengatakan, “Asteroid seharusnya menjadi kurang merah saat mendekati matahari.” Pernyataannya ini jelas bertentangan dengan pendapat para ilmuwan lainnya.

Dengan demikian, warna merah asteroid tidak dapat dipastikan sebagai patokan untuk menentukan dari mana asal asteroid tersebut. Ini menjadi salah satu misteri tersendiri. Akan tetapi, memang pada umumnya objek di tata surya bagian dalam cenderung lebih banyak memantulkan cahaya biru karena tidak memiliki senyawa organik kompleks. Sedangkan objek yang ada di luar tata surya akan lebih merah karena keberadaan senyawa organik kompleks tersebut.

Jadi fakta bahwa keduanya jauh lebih merah daripada badan 'tipe D' lainnya (yang dianggap sebagai objek paling merah di sabuk asteroid sampai saat ini) menunjukkan bahwa mereka berasal dari tata surya luar.


"Penemuan ini memberikan bukti baru bahwa planetesimal yang terbentuk di tepi luar tata surya telah pindah ke sabuk asteroid dalam orbit Jupiter," kata JAXA, badan antariksa Jepang, dalam sebuah pernyataannya.

Nice Model juga mendukung gagasan bahwa ada planet tambahan lainnya yang mirip Neptunus. Planet ini dikeluarkan dari tata surya. Belum lama, kita mengenal planet ini sebagai Planet Sembilan, yang konon juga masih menjadi misteri hingga saat ini.

Penemuan kedua asteroid tersebut menurut JAXA adalah layak dipertimbangkan sebagai tujuan misi baru penelitian di masa depan. Untuk memecahkan misteri yang ada sangat diperlukan sekali melakukan pengiriman pesawat ruang angkasa ke objek tersebut secara dekat.





 

Comments

Popular posts from this blog

Penemuan Jejak Fosil Ungkap Buaya Purba Berjalan dengan Dua Kaki

Benda Misterius Jatuh di Situbondo

Apakah Primata Purba Berdampingan dengan T. Rex? Bukti Baru Perkuat Teori